Mahasiswa di Ternate Demo Desak Pemerintah Usut Tuntas Pencemaran Sungai Sagea

Mahasiswa Universitas Khairun Ternate di depan Rumah Dinas Gubernur Malut, Jalan Ahmad Yani, Kita Ternate (14/9/2023) Foto: Sukriyanto safar/LPM Aspirasi



LPM Aspirasi -- Demostrasi menyoal pencemaran sungai Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, terus berlanjut. Kali ini, ratusan mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) Ternate mendatangi Rumah Dinas Gubernur Maluku Utara, Jalan Ahmad Yani, Kota Ternate, pada Kamis (14/9/2023). Mereka mendesak pemerintah Maluku Utara mengusut tuntas pencemaran yang terjadi sejak akhir Juli 2023 itu.

Pantauan LPM Aspirasi, massa aksi melakukan long march dari Kampus II Gambesi, Ternate Selatan dan Kampus I Akehuda, Ternate Utara.  Mereka bentangkan spanduk bertuliskan “Selamatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sagea” dan “Duka Sagea adalah Duka Kita Bersama” serta sejumlah spanduk berisi kecaman atas pencemaran Sungai Sagea yang diduga akibat aktivitas sejumlah perusahaan tambang.

Abdul Kader Rifai, Koordinator aksi mengatakan protes kali ini karena pemerintah dianggap tidak serius dalam upaya merespon pencemaran Sungai Desa Sagea. Surat rekomendasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk pemberhentian sementara operasi tambang  dinilai tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan aktivitas ekstraktif.

“Harusnya ada langkah pasti pemerintah terkait pencemaran yang terjadi di Sagea, karena kalau tidak diseriusi akan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat Sagea,” ungkapnya.
Massa aksi melakukan orasi, Kamis (14/9/2023)Foto: Sukriyanto safar/LPM Aspirasi.



Menurut dia, laporan sementara yang dikeluarkan tim investigasi DLH Maluku Utara yang menyebut pencemaran sungai bukan karena dampak langsung aktivitas pertambangan sangat aneh. 

Pasalnya, berdasarkan hasil analisis di lapangan dan analisis citra satelit yang dilakukan oleh Koalisi Save Sagea menunjukkan ada aktivitas pembukaan lahan menuju area pertambangan.

Sejak Maret sampai Juli, kata Abdul Koalisi Save Sagea mendapati ada bukaan lahan untuk pembuatan jalan di sekitar hulu DAS Sagea yang dicurigai aktivitas konsesi PT. Weda Bay Nikel, dan terdapat pembuatan jalan untuk moving ring atau pengerahan alat untuk pengeboran ke arah pintu utara.

“Dari situ sehingga kami mengindikasikan tercemarnya sungai sagea diduga akibat dari aktivitas industri ekstraktif pertambangan,” tandasnya.
Spanduk aksi mahasiswa Unkhair Ternate (14/9/2023) Foto: Sukriyanto safar/LPM Aspirasi


Abdul bilang bukan tanpa sebab, hal ini dikuatkan juga oleh pernyataan DLH Kabupaten Halmahera Tengah yang menyatakan pencemaran sungai sagea tergolong fatal karena membawa endapan lumpur yang terindikasi bersumber dari kegiatan pertambangan. 

“Sehingga kami mendesak pemerintah untuk serius dalam melakukan pengusutan terhadap pencemaran Sungai Sagea. Kami tidak mau menemui DLH karena kami menduga ada data yang mereka tutupi. Kami akan melakukan koordinasi dan konsolidasi untuk kembali turun aksi,” tuturnya.

Reporter: Musdalifa M Rahmat dan Yulinar Sapsuha
Editor: Susi H Bangsa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama