LPM Aspirasi-- Front Mahasiswa Sula (FMS) mengelar aksi protes bentangkan poster di kongres Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) pada Minggu, (11/01/2026) di Asrama Haji Kelurahan Ngade, Kota Ternate.
Aksi ini sebagai respon terhadap HPMS yang belum memiliki sikap menolak 10 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berada di Pulau Mangoli. Namun, hal ini menuai represif hingga intimidasi bahkan satu orang menjadi korban pemukulan dan terdapat lebam di wajahnya.
Ikra Alkatiri, korban pemukulan mengatakan, mereka dipaksa keluar dengan cacian dan kata-kata hinaan dari panitia.
“Saat kami dikeluarkan ada seorang panitia mengatakan bahwa jangan buat malu orang Sula punya muka, apa yang kalian buat ini salah tempat, ini bukan kegiatan orang Mangoli, ini kegiatan orang Sula.” terangnya.
Dia bilang, tindakan yang dilakukan ini memalukan orang Sula dan rakyat Kepulauan Sula sebab protes dianggap memalukan sedangkan dalam kongres joget-jogetan tidak dianggap memalukan.
“Setelah kami keluar, mereka memutar lagu dan berjoget-jogetan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ini memalukan tidak mencerminkan pelajar apa lagi mahasiswa," jelas Ikra.
Lesung Karibo, koordinator FMS mangatakan represif dan intimidasi yang dilakukan oleh oknum-oknum Panitia Kongres HPMS, memperlihatkan bahwa, mereka secara terang-terangan bersepakat dengan adanya 10 IUP di Pulau Mangoli.
“Terbukti mereka mengundang wakil gubernur di dalam acara pembukaan kongres dan menolak kita untuk menyampaikan apa yang terjadi di Sula dengan membubarkan kita.” tegas dia.
Apa yang dilakukan oleh HPMS, lanjutnya, selama ini tidak merespon terhadap masalah-masalah yang ada di Sula, salah satunya 10 IUP ini.
“Di dalam HPMS memiliki banyak orang Sula toh, masalah Sula saja tidak mendapat respon lalu tujuan dari organisasi ini yang seharusnya mem-presure masalah yang ada, itu dimaknai sebagai apa."
Menurut dia, mahasiswa Sula seharusnya mengecam tindakan yang dilakukan oleh panitia HPMS yang abai terhadap masalah yang terjadi di Kepulauan Sula.
“Kami dari FMS mengecam tindak represif yang dilakukan oleh panitia kongres dan mendesak agar HPMS mengambil tanggung jawab mengawal masalah yang ada, termasuk 10 IUP di Mangoli."
Reporter: Sukriyanto Safar
Editor: Susi H. Bangsa
