Pertambangan Akar Minimnya Minat Bertani Di Maluku Utara

Dialog publik oleh BEM Fakultas Pertanian di Pelataran Fakultas Pertanian Unkhair pada Kamis (14/12/2023). Foto: La Ode Fandi Herdiansyah/LPM Aspirasi.


LPM Aspirasi--Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian, Universitas Khairun (Unkhair) Ternate mengadakan Dialog Publik pada Kamis, (14/12/2023) di pelataran Fakultas Pertanian, Kampus II Gambesi, Ternate Selatan.

Agenda ini mengusung tema “Membangun Pertanian Berkelanjutan di Tengah Gempuran Krisis Iklim”. Diskusi ini dimaksudkan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Fakultas Pertanian.

Lily Ishak, Dekan Fakultas Pertanian, dan Risdian Kayang, Perwakilan pengurus BEM Unkhair, jadi narasumber.

Lily Ishak mengatakaan, dalam masyarakat kita, ada yang tidak memiliki lahan pertanian, namun memanfaatkan lahan orang lain. Mereka menyewa lahan dan bertani demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sehingga kehadiran pertambangan, kata dia, dikhawatirkan memicu minat petani semakin minim. Hal ini karena lahan yang semakin tergerus dan menipis mengakibatkan aktifitas bertani makin sulit dan minat petani semakin sedikit.

“Kalau sampai pertanian sudah mati entah bayangkan bagaimana, apa yang akan terjadi, tidak ada lagi orang yang bercocok tanam bahkan tidak akan ada produksi penyediaan pangan” cemas Lily Ishak.

Ia bilang, pertambangan telah merubah minat anak-anak di Indonesia. Masyarakat dan pemuda di Halmahera kini cenderung tidak mau melanjutkan pendidikan. Lulusan SMA tidak lagi ingin ke perguruan tinggi.

“Anak muda tidak lagi ingin lanjut kuliah, mereka memilih berkerja di perusahaan yang penghasilannya dinilai sangat menjajikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Risdian Kayang, perwakilan BEM Unkhair menjelaskan diskusi di tingkat mahasiswa urgent untuk digiatkan secara terus menerus. Selain sebagai kepentingan kampanye dan perluasan, mahasiswa dan pemuda adalah segmen masyarakat yang paling terdampak karena menentukan masa depannya. 

Selain itu krisis iklim adalah problem mondial dan berdampak multidimensional. Di sektor pertanian, krisis iklim berdampak sistemik karena mempengaruhi kesuburan tanah, oleh temperatur cuaca yang tidak menentu.

"Apalagi banyak riset menyebutkan pertumbuhan penduduk global 9,8 M pada 2050, tentu akan mempengaruhi kelangkaan dan akses terhadap pangan" jelas Risdian.


Reporter Magang: La Ode Fandi Herdiansyah

Editor: Susi H Bangsa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama