Tugas Kita Adalah Merawat Jurnalisme Dengan Kritik

Ilustrasi gambar (foto pribadi)

Judul Buku: Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan
Penulis: Rusdi Mathari
Penyunting: Wisnu Prasetya Utomo
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 257 Halaman
Peresensi: Rabul Sawal

SAYA setidaknya pernah meniti karir menjadi wartawan selama kurang lebih dua tahun di salah satu media lokal di Maluku Utara. Mulai pada pertengahan 2018 sampai awal 2020. Dengan pengalaman yang singkat dan terbatas itu, saya sedikitnya paham bagaimana media-media disini tumbuh bak musim penghujan dan kerja wartawannya yang sekadar melayani kepentingan korporasi media.

Barangkali ini sudah menjadi rahasia umum, dimana sebagian besar media tergerus dalam arus penyajian informasi yang terbatas: sekadar menyajikan berita dan mengejar siapa yang lebih dulu tayang. Wartawannya pun demikian, kerap mengeklaim dan menerbitkan hasil liputan jurnalis lain dengan sikap tidak malu-malu.

Walhasil, praktik jurnalistik jauh dari esensi jurnalisme yang disebut melayani kepentingan publik. Jurnalisme tidak lagi mendapat tempat dalam masyarakat. Tugas dan tanggung jawab wartawan untuk merawat jurnalisme agar jauh dari tsunami hoax, berita palsu, hingga ketidakpercayaan publik justru diabaikan.

Publik dibiarkan terperangkap pada arus informasi yang menyesatkan demi kepentingan oligark media. Sehingga, jangan heran bila publik berkesimpulan bahwa jurnalisme kita sekarang sedang berada dalam episode menegangkan. Alias telah mengalami “krisis eksistensi” dalam praktik jurnalistik.

Pertanyaannya, bagaimana agar jurnalisme sebagai watchdog atau pilar keempat demokrasi ini dirawat? Setidaknya bisa keluar dari arus “krisis eksistensi”? Rusdi Mathari dalam buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan (2018) menawarkan jalan demokratis untuk merawat jurnalisme yakni dengan kritik. Apapun risikonya agar marwah jurnalisme tidak direndahkan.

Cak Rusdi, begitu ia disapa, dalam buku yang dihimpun tim penerbit melalui karya-karyanya yang bertengker di media sosial, baik di status Facebook, blog pribadi, hingga materi pelatihan ini merupakan kritik dan ulasannya terhadap media. Tentu saja media dan wartawannya yang menjalankan praktik jurnalistik yang mirip ‘pembunuh bayaran’: menjadi corong kepentingan tertentu dengan upah tertentu lalu mengabaikan kepentingan publik.

Kritik-kritiknya yang bikin panas telinga bukan tanpa sebab dan dasar. Sebagai jurnalis yang sudah malang-melintang selama 25 tahun di berbagai media, ia tahu persis perilaku media dan wartawan dalam menyajikan karya jurnalistik.

Dia dengan tegas menentang praktik jurnalisme yang mengabaikan kepentingan publik. Artinya publik harus punya porsi besar mendapatkan informasi yang benar. Jika publik kehilangan kepercayaan, maka disitulah mengaburnya jurnalisme.


38 artikel pada buku setebal 257 halaman ini cukup menarik karena, selain membuka borok praktek-praktek yang jurnalistik yang merendahkan jurnalisme, juga mengulas pengalaman-pengalaman Cak Rusdi selama bergelut menjadi wartawan. Dia melihat langsung sebagian kawan-kawannya sesama jurnalis yang sekadar menjadi partisan yang tanpa malu-malu, tidak tahu, atau memang tidak tahu sama sekali kode etik wartawan.

Jangan Percaya Media

Cak Rusdi mengalami langsung bagaimana lika-likunya menghadapi konglomerasi media yang anti kritik dan tidak menerima kenyataan kebobrokan dalam industri media. Pada 2011 ketika masih bekerja di Koran Jakarta, dia menggalang solidaritas menggelar mogok kerja sebagai keberpihakannya terhadap kawan-kawannya yang dipecat. Sialnya, dia justru ikut dipecat dan dituduh menggelapkan fasilitas kantor, yang justru tuduhan itu tidak terbukti kedepannya.

Lelaki kelahiran Sitobundo 12 Oktober 1967 ini dalam banyak hal cukup kritis menelaah media-media yang membuat wartawannya pongah memperjuangkan hak-haknya sendiri. Padahal, sebagai entitas lintas profesi, kelompok ini kerap memuat berita-berita tentang keadilan dan hak asasi, disisi lain,  juga menjadi kelompok yang paling rentan ditindas oleh pemilik media. Hal ini bisa dibaca pada artikel “Mogok Wartawan The Times dan Koran Jakarta, dan Wartawan Bermasalah” dalam buku ini.

Penguasa media memang sangat mungkin menancapkan pengaruhnya pada berita, konten sekaligus relasi kuasanya untuk berbuat sesuka kehendak. Elit media bisa menggunakan kekuasaannya sebagai sarana politik pribadi maupun golongan.

Misalnya cerita Cak Rusdi dalam “PHK Trust, 5 Tahun Lalu” tentang bagaimana kesewenang-wenangan perusahaan dan proses pemecatan terjadi dengan melibatkan politik dalam kantor dan relasi dalam ruang redaksi. Dia yang ketika itu menjadi ketua Serikat Karyawan Trust (Sekat) turut dipecat dan bertahun-tahun hak pesangonnya tak diberikan.

Wartawan Masih Bisa Dipercaya?

Kejahatan terbesar wartawan adalah menyajikan berita bohong kepada publik. Dalam “Wartawan dan Kebohongan”, Cak Rusdi menulis tentang salah seorang wartawan The Washington Post bernama Janet Leslie Cooke yang menerima Pulitzer 1981 karena karyanya yang berjudul “Dunia Jimmy”. Dua hari setelahnya media ternama itu mengembalikan penghargaan bergengsi kepada panitia lantaran karya itu merupakan kisah fiktif dan tidak berdasarkan fakta.

Wartawan juga tidak bisa dipercaya. Kenapa? Sebagian wartawan paling sering bertukar liputan padahal tidak berada di lapangan. Lalu tiba-tiba saja dalam satu waktu mendapati dua berita. Ini disebut Cak Rusdi sebagai “Kloning” untuk menggambarkan perilaku macam itu. Bobroknya lagi, dengan hanya menggunakan satu sumber dan tidak dikroscek oleh redaktur medianya.

Hal ini berpotensi menjauhkan kepercayaan publik terhadap wartawan. Pada artikel “Pizza”, Cak Rusdi mempermasalahkan ketika berita investigasi Tempo dan BBC Indonesia yang membongkar Pizza Hut dan Marugame Udon menggunakan bahan kadaluarsa yang justru dimuntahkan oleh publik dan banyak media.

Jalan pikiran publik sebenarnya dibentuk oleh media, namun juga publik percaya bahwa ada motif dan kepentingan tertentu dibalik setiap berita. Dia mengambil contoh ketika Pilpres 2014, bagaimana publik menyaksikan “drama” yang lain oleh media dan wartawan yang tidak malu-malu menjadi aktor di balik panggung politik. Mendukung salah satu kandindat.

Ini yang membuat tingkat kepercayaan publik terhadap wartawan [media] sudah sekarat. Bahkan bila dihitung, sudah terjadi sejak lama. Cak Rusdi mengatakannya bahwa profesi wartawan memang telah sekarat bukan karena ditusuk oleh profesi lain. Melainkan karena ditusuk oleh wartawan sendiri.

Mata Panah yang Menikam Diri Sendiri: Mencatat Dosa Media dan Wartawan

Profesi yang puluhan tahun Cak Rusdi geluti membuatnya cukup lihai membongkar praktik pemberitaan yang tidak berkualitas suatu media. Dalam banyak hal, media hanya mengejar waktu tayang atau paling cepat memberitakan ketimbang memprioritaskan isi pemberitaan. Disisi lain, media juga sering mengotak-atik waktu tayang sekadar untuk diklaim sebagai media paling tanggap dan cepat.

Perkara ini yang bikin Cak Rudi menelanjangi borok dan dosa media melalui analisisnya dalam artikel “Mencari Bushro Lewat Wicaksono”. Ia setidaknya melihat media yang menurunkan berita pernyataan Noordin M. Top ceroboh karena tidak berhati-hati. Mengabaikan kaidah dan standar jurnalistik yang ketat. Wartawan bisa saja dituding telah bersepakat untuk sengaja “menciptakan” berita demi berita itu sendiri.

Dengan begitu, media dan wartawan menciptakan dosa sendiri bagi dirinya. Membiarkan mata panah yang mereka tulis menikam diri sendiri. Dalam “Dosa Wartawan, Dosa Jurnalistik” media dan wartawan kerap tidak mengakui dosa-dosa yang mereka perbuat. Terutama salah satunya soal pemberitaan mengenai teroris dan terorisme. Menciptakan stigma bagi kelompok teroris, dengan hanya sekadar merujuk pada satu sumber, yang sialnya sebagai institusi negara: aparat polisi, densus 88 termasuk BNPT.

Memang cukup kompleks ketika membicarakan dosa-dosa media dan wartawan. Bentuknya beragam dan beraneka rupa. Tidak mudah mengungkapnya. Namun, Cak Rusdi mengenalkan kita pada titik terangnya dimana melihat wartawan mengemis ke sumber berita, menulis apa yang diutarakannya, walau berbohong sekalipun. Sering sekali ditenggarai mempercayai kredibilitas sumber dan dengan “profesi” hingga menulis sumber fiktif. Cukup memalukan dan tidak patut ditiru.

Lantas, apakah dengan membongkar dosa-dosa itu Cak Rusdi tidak punya catatan kesalahan dalam proses liputan? Tentu dalam dunia jurnalistik, pasti ada. Dengan rendah hati dia menceritakan pengalamannya ketika masih di Majalah Trust saat melakukan investigasi tentang pesangon karyawaan BPPN sebesar Rp.10 triliun. Ia merasa kecolongan lantaran laporan itu bertumpu pada satu narasumber yang dianggap kredibel tanpa proses verifikasi terlebih dahulu.

Walau Majalah Trust tidak disomasi oleh BPPN akibat kecerobohannya, namun bagi dia laporan itu cukup memalukan. Setidaknya sebagai jurnalis tidak ketat dalam memverifikasi berita. Seperti yang dia tulis, bahwa lebih baik menyesali dan mengakui kesalahan walau itu terlambat daripada terus-menerus menutupi kebohongan.

Merawat Jurnalisme, Merawat Demokrasi

Saya yakin bahwa dengan merawat jurnalisme, kita sedang merawat demokrasi suatu masyarakat. Masyarakat akan maju bila jurnalismenya bermutu. Ini pernah diutarakan oleh Andreas Harsono ketika mengisi pelatihan disuatu kesempatan pada tahun lalu. Juga dalam bukunya 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme mengungkap banyak hal termasuk kritik terhadap media dan wartawan.

Buku Cak Rusdi ini memang bukanlah sebuah buku panduan yang berputar-putar secara teoritis dan membosankan. Ini adalah kumpulan cerita yang dikumpulkan berdasarkan keterkaitan sehingga sangat terasa dan enak dibaca. Tak jarang bila memungkinkan, kita membacanya dengan sekali duduk dalam seharian penuh.

Setiap artikel dalam buku ini menarik dan tegas. Kritis dan cukup piawai. Ini adalah buku pertama Rusdi Mathari yang saya baca setelah dia wafat dua tahun lalu. Perkenalan saya dengan buku-buku macam ini juga baru berjalan sekitar satu tahun setelah aktif di pers mahasiswa.

Gaya menulisnya cukup berbeda ketika membaca karya-karya lain. Dia memang bukan satu-satunya, tapi merupakan salah satu penulis yang ciamik dalam menyusun kalimat demi kalimat. Ada banyak karyanya yang lain, yang tentu saja akan jadi ‘buron’ bagi saya nanti. Membaca buku ini seperti menyelami kisah-kisah hidupnya secara langsung selama berkiprah di dunia jurnalis. Tentu saja tidak cukup sekadar membaca, menjadi jurnalis paling mungkin untuk memahaminya lebih lanjut.

Apa yang mau dia sampaikan dalam buku ini menjadi ikhtiar bagi jurnalis dan media untuk merawat jurnalisme. Tentu saja mesti dengan kritik dan mau tidak mau harus diterima. Kritik bukanlah mata pisau yang membunuh jurnalisme, namun menjaganya agar martabat jurnalisme dan kebebasan pers tetap terjaga. Salah satunya dengan melibatkan publik merawat jurnalisme dan turut serta mengkritik praktik-praktik jurnalistik yang mencederai esensi jurnalisme. Dengan begitu kita sedang merawat proses berjalannya demokrasi untuk kepentingan publik itu sendiri.[]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama