Ormawa Faperta Keluhkan Sejumlah Fasilitas Fakultas Pertanian

 

Fasilitas WC di Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate yang dinilai mahasiswa masih terbatas. Foto: Sukriyanto Safar/LPM Appirasi.

LPM Aspirasi-- Sujumlah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Khairun (Unkhair) keluhkan keterbatasan penyediaan fasilitas untuk mahasiswa pada Selasa, (28/01/2026). 

Mereka menilai penyediaan fasilitas yang masih terbatas akan menyulitkan mahasiswa pertanian. Pasalnya yang ada di Faperta hanya beberapa fasilitas salah satunya WC, itu pun gabungan bersama dengan Fakultas Perikanan. 

Asri Fahris, presiden BEM Faperta mengatakan, fasilitas yang terbatas ini menyulitkan mahasiswa dalam proses belajar mengajar. 

“Misalnya kita sedang belajar, terus rasa kencing, lalu ke kamar mandi dan ada yang sudah di dalam akan membuat kita antri, makanya proses belajar mahasiswa akan tertunda lantaran antrian di WC,” jelas Asri. 

Dia bilang, sejak 2022 hingga sekarang fasilitas itu tidak pernah berubah bahkan ada yang tidak terpakai.

“Sejak saya masuk kuliah hingga sekarang fasilitas, contohnya WC ini tidak pernah berubah, itupun saling klaim antara dua fakultas yaitu perikanan dan pertanian,” terangnya. 

Menurut dia, kampus harusnya menjamin fasilitas mahasiswa sebab dalam setiap tahunnya mahasiswa selalu membayar Iuran Pembangunan Institusi (IPI) untuk pembangunan fasilitas kampus. 

“Setiap tahun mahasiswa membayar UKT dan IPI, tapi kenapa fasilitas seperti ini saja tidak memadai,” tanya mahasiswa prodi Agroteknologi itu.

Sejalan dengan itu, Arsal, ketua umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (Himahita) megatakan fasilitas laboratorium Faperta juga tidak memadai. 

“Misalnya, alat penguji kimia itu tidak ada, sedangkan dalam penelitian mahasiswa sering disulitkan ke hal-hal seperti ini sehingga sampel mereka bahkan dikrim sampai ke Makassar hingga Kampus IPB." 

Fasilitas yang terdapat di laboratorium, kata dia, hanya alat-alat penguji fisik tanah, misalnya alat uji tekstur tanah itupun masih kurang. 

Menurutnya, hal ini mempersulit mahasiswa dalam penelitian bahkan sampai pada ujian penelitian di kampus. 

“Pertanyaan yang sering di tanyakan pada saat ujian itu bagaimana uji nitrogen sementara alat ujinya tidak ada. Kita kan hanya krim sampel dan menerima data saja tanpa melakukannya, alasannya karena alatnya tidak ada,” terangnya. 

Sementara itu, Mardiyani Sidayat, Wakil Dekan (Wadek) II Faperta saat di minta keterangan  mengatakan lagi sibuk mengurusi akreditasi Program Studi (Prodi). 

“Saya lagi sibuk, kalau bisa suarakan saja,” terangnya singkat.


Reporter: Sukriyanto Safar

Editor: Susi H. Bangsa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama