BEM FKIP Gelar Dialog dan Pangung Ekspresi Peringati September Hitam

Dialog publik yang dilakukan oleh BEM FKIP dengan tajuk "September Semakin Hitam" pada Kamis, (03/9/2026). Foto: Suritno Tahmid/LPM Aspirasi.


LPM Apirasi-- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair) mengelar dialog dan pangguang ekpresi pada Kamis, (03/9/2026) di Unkhair Satu Akehuda,  Ternate Utara, Kota Ternate. 

Agenda ini memperingati september hitam yang diisi dengan pembacaaan puisi, musik, monolog, dan dialog publik. 

Mereka mengusung tajuk “September Semakin Hitam”. Turut hadir sebagai pembicara dalam dialog diantarnya, Nudin, aktivis mahasiswa dan M. Zulwahdi, perwakilan mahasiswa  FKIP Unkhair. 

Ini merupakan upaya merawat ingatan, dan menolak lupa peristiwa yang menjadi catatan kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. 

Nudin, mengatakan di bulan September ini pernah terjadi pembunuhan terhadap Munir, dan pembantaiaaan 65-66. Selain itu, adanya diskriminasi rakyat yang sampai sekarang tidak pernah di usut tuntas. 

”Sehingga kita perlu memperkuat barisan perlawanan jika tidak penindasan akan berkepanjangan dan tidak pernah diusut tuntas,” jelasnya 

Dia bilang peran mahasiswa sangat dibutuhkan dalam mengontrol kebijakan dan kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat. 

"Jika tidak ada amarah, protes, maupun reaksi dari mahasiswa terkait masalah yang ada, maka kita tidak jauh berbeda dengan kehidupan yang pernah diterapkan masa Orde Baru (Orba),” tegas dia. 

Sedangkan kebijakan negara secara nasional, maupun daerah menurut dia, mengakibatkan terjadi perampasan ruang hidup, masifnya industrialisasi pertambangan, dan diskriminasi yang memakan korban tetapi negara cacat untuk mengatasi hal ini. 

Senada dengan itu, M. Zulwahdi bilang dunia kampus bukan hanya tempat belajar mengajar, menerima materi dari dosen tetapi menjadi ajang konsolidasi perlawanan. 

“Dunia kampus merupakan sebuah ruang yang sangat strategis untuk lahirnya berbagai gagasan, pikiran, dan ide dalam mengawal isu-isu sosial," terangnya. 

Kata Dia, sejarah lahirnya bangsa ini merupakan bagian dari perjuangan mahasiswa pada masa lampau. Namun, hal ini berubah di masa orba dimana kampus sengaja dibentuk oleh politik atas negara dalam mengamankan posisinya. 

“Misalnya kebijakan kampus yang memfokuskan mahasiswa di kampus agar tidak berorganisasi, pola ini sama dengan kebijakan orde baru tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Kordinasi Kampus (BKK)."

Selain itu, Dani, salah satu peserta dialog mengatakan dalam membangun atau merawat ingatan kolektif untuk perlawanan setidaknya dimulai dengan agenda-agenda progresif seperti literasi sebagai modal awal.  

“Sekarang ini budaya literasi nyaris hampir hilang  dikalangan mahasiswa, padahal ini merupakan satu senjata dalam membangun gerakan," jelas dia. 

Bagi Dia, literasi ini menjadi batu loncatan untuk gerakan dalam mempertahankan idealisme mahasiswa yang nyaris hilang. 

“Dengan literasi kita bisa membaca perkembangan jaman, signal politik dan kejahatan negara." 


Reporter: Suritno Tahmid

Editor: Sukriyanto Safar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama