Bahalo Project Gelar Open Newsroom, Libatkan Warga Menentukan Agenda Liputan Publik

 

Foto bersama setelah penyelenggaraan Open Newsroom dari Bahalo Project bertajuk "Jalan Jurnalisme Publik: Apa yang Sedang Terjadi di Kampung, Tetapi Luput Diliput?" pada Sabtu, (11/07/2026) di kantor Yayasan Salawaktu, Ternate Utara. Foto: Bahalo Project.


LPM Aspirasi-- Bahalo Project menyelenggarakan Open Newsroom (Ruang Redaksi Terbuka) dengan tajuk "Jalan Jurnalisme Publik: Apa yang Sedang Terjadi di Kampung, Tetapi Luput Diliput?" pada Sabtu, (11/07/2026)di Kantor Yayasan Salawaku, Ternate Utara. 

Kegiatan ini berkolaborasi dengan Perkumpulan Fakawele dan Yayasan Salawaku, serta menghadirkan peserta dari berbagai organisasi masyarakat sipil, komunitas, lembaga jurnalis, media, akademisi, dan warga dari wilayah terdampak di Maluku Utara, baik secara luring maupun daring untuk memetakan persoalan publik yang selama ini belum banyak mendapat perhatian media.

Forum ini merupakan bagian dari upaya Bahalo Project mengembangkan praktik jurnalisme publik, yaitu pendekatan yang membuka ruang dialog antara redaksi dan masyarakat agar agenda liputan lahir dari pengalaman, kebutuhan, serta pengetahuan warga yang hidup langsung di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan di Maluku Utara.

Rabul Sawal, Pimpinan Redaksi Bahalo Project, mengatakan banyak persoalan penting di tingkat kampung tidak pernah menjadi perhatian media karena liputan sering berpusat pada peristiwa, pernyataan pejabat, maupun agenda formal.

Suasa saat berlangsungnya diskusi Open Newsroom dari Bahalo Project bertajuk "Jalan Jurnalisme Publik: Apa yang Sedang Terjadi di Kampung, Tetapi Luput Diliput?" pada Sabtu, (11/07/2026) di kantor Yayasan Salawaktu, Ternate Utara. Foto: Bahalo Project.


"Kami ingin membangun ruang redaksi yang lebih terbuka. Agenda liputan tidak hanya disusun dari dalam newsroom, tetapi juga diperkaya oleh pengalaman masyarakat yang setiap hari menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Open Newsroom menjadi mekanisme untuk mendengar, memverifikasi, dan menentukan isu-isu yang memiliki kepentingan publik,” terangnya. 

Maluku Utara saat ini menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Ekspansi industri pertambangan nikel, pembangunan kawasan industri, perubahan tata ruang, hingga meningkatnya investasi telah membawa konsekuensi terhadap kehidupan masyarakat di pesisir, pulau-pulau kecil, wilayah adat, maupun kawasan perkotaan. 

“Dalam forum ini, peserta berbagi persoalan yang berkembang di wilayah masing-masing, mulai dari konflik agraria, pencemaran lingkungan, krisis air bersih, perlindungan masyarakat adat, hilangnya ruang hidup nelayan, perubahan sosial-budaya, pendidikan, kesehatan, hingga berbagai bentuk praktik baik masyarakat dalam menjaga ruang hidup mereka,” ungkapnya. 

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemetaan isu berdasarkan tema, wilayah, tingkat urgensi, serta potensi pengembangan menjadi liputan investigasi, feature, serial multimedia, maupun liputan berbasis data.

“Forum ini di pandu oleh Mahmud Ichi, sebagai jurnalis senior dan mendorong peserta untuk tidak hanya menyampaikan persoalan yang sedang terjadi, tetapi juga menjelaskan konteks, aktor yang terlibat, data awal, serta kemungkinan sumber informasi sehingga usulan isu dapat ditindaklanjuti melalui proses verifikasi jurnalistik.” terangnya. 

Melalui forum ini, mereka menargetkan tersusunnya 5–10 agenda liputan prioritas untuk periode Juli–Desember 2026. Selain itu, forum juga menghasilkan pemetaan awal jaringan narasumber, komunitas, organisasi, akademisi, dan sumber data yang dapat

“Kami mengelar akan melakukan proses verifikasi terhadap setiap usulan yang muncul dalam forum sebelum menetapkannya sebagai agenda editorial. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan liputan yang lebih relevan dengan kebutuhan publik, memperkuat akuntabilitas media, serta menghadirkan jurnalisme yang berpihak pada kepentingan masyarakat," pungkasnya. 


Editor: Sukriyanto Safar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama