Mahasiswa Baru Unkhair Menuntut Kejelasan Pembayaran Tes Kesehatan

Mahasiswa baru Universitas Khairun melakukan protes terkait biaya kesehatan. Foto: Irawan Abae/ LPM Aspirasi

LPM Aspirasi -- Sejumlah mahasiswa baru Universitas Khairun bersama Aliansi Mahasiswa Unkhair Bersatu melakukan aksi unjuk rasa, pada Jumat (6/8/2021) terkait kebijakan biaya pemeriksaan kesehatan.

Kebijakan kampus yang ditujukan bagi mahasiswa baru Jalur SBMPTN dan SMMUnkhair 2021 di tengah pandemi Covid-19 dinilai mengabaikan kondisi ekonomi mereka.

"Pemungutan biaya kesehatan sangat memberatkan bagi mahasiswa baru dan bisa menurunkan semangat atau cita-cita anak bangsa," terang Irawan Asek, kordinator aksi yang juga mahasiswa Teknik Sipil.

Dalam laman resmi Unkhair disebutkan, biaya pemeriksaan kesehatan seluruhnya ditanggung oleh mahasiswa baru. Jumlahnya bervariasi sesuai status program studi dan fakultas.

Bagi mahasiswa yang bukan Fakultas Kedokteran (dilingkup Unkhair) harus membayar Rp.302.000 dan jadwal pemeriksaan kesehatan akan diumumkan pada tanggal 7 Agustus 2021. Sementara untuk mahasiswa baru Program Studi Farmasi sebesar Rp.352.000 dan Program Studi Pendidikan Kedokteran sebesar Rp.652.000.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran, disebutkan, melakukan pemeriksaan kesehatan mulai tanggal, 9 sd 16 Agustus 2021.

Irawan bilang, biaya kesehatan justru bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 55 Tahun 2013 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal. 

"Bahwa perguruan tinggi negeri tidak boleh memungut uang pangkal dan uang pungutan lain selain uang kuliah tunggal dari mahasiswa baru program sarjana (SI) dan diploma."

Kampus Unkhair, kata Irawan, yang kini telah berstatus Badan Layanan Umum (BLU), harusnya segala pembiayaan mengikuti aturan sistem UKT.

Muhammad Tahir Abd Kadir, Kepala Biro Umum Kepagawaian dan Keuangan Unkhair, mengatakan pemeriksaan tes kesehatan yang dipusatkan di klinik Pratama Fakultas Kedokteran dikhususkan untuk mahasiswa baru dari Fakultas Kedokteran.

"Sedangkan mahasiswa yang di luar Fakultas Kedokteran bisa melakukan tes kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat," tuturnya. 

Sementara, Fikri Andri Irwan, salah seorang mahasiswa baru, merasa penanggungan biaya kesehatan tampaknya bakal memupus cita-citanya untuk menempuh pendidikan tinggi.

Disisi lain, Fikri bilang pemerintah sendiri tengah melakukan PPKM dan turut membuat pendapatan orang tuanya menyusut.

“Jujur saja, ayah dan ibu saya adalah seorang petani dan nelayan. Tidak mungkin dalam jangka satu minggu bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 302.000," ujarnya.


Reporter: Irawan Abae
Editor: Susi H. Bangsa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama