Wadek III FEB Unkhair Sering Bertindak Keras dan Intervensi Pemilihan BEM


Aksi aliansi mahasiswa FEB menggugat
Sumber foto: Darman/LPM Aspirasi


Aspirasipress.com-- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Ekonomi menggugat menggelar aksi pada Kamis, 8 April 2020 di depan Kantor Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Kampus II, kelurahan Gambesi.

Mereka menilai Wakil Dekan III FEB, Nonce Hasan telah mencederai demokrasi mahasiswa dengan mengintervensi Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas (KPUMF) serta melakukan tindakan kekerasan kepada mahasiswa ekonomi. 

Humas Aliansi, Ridwan Marsaoly mengatakan sebelumnya mereka telah melakukan pemilihan BEM  sempat terjadi caos. Setelah itu melakukan kordinasi dengan wakil dekan III untuk menjalankan kembali demokrasi mahasiswa dalam melakukan pemilihan BEM. Namun yang didapatkan adalah wadek meminta untuk pembentukan KPUMF baru dan dia juga yang akan menentukan ketua BEM. 

Menurut Ridwan kampus adalah tempat bagi masyarakat intelektual untuk mengekspresikan pikiran dan pendapat secara merdeka. Kemerdekaan menyampaikan apa yang dipikirkan melalui pendapat secara lisan maupun tulisan yang merupakan hak asasi setiap warga negara yang dijamin oleh undang-undang. 

"Kami menganggap kebebasan berekspresi di FEB tidak ada karena selalu di intervensi oleh wadek III melalui ancaman-ancamannya," terangnya.

Ia bersama teman-temannya juga melihat wakil dekan III mengakomodir tindakan kekerasan yang terjadi dibeberapa kesempatan, seperti yang dialami Ketua BEM FEB dalam kegiatan bina desa di Modayama, Pulau Kayoa dimana Ia mengalami kekerasan, selain itu juga saat kegiatan inforient mahasiswa baru 2019 dialami Alfajrin, serta Ketua himapro ekonomi pembangunan.

"Karena mengindikasikan secara psikologi akan mempengaruhi perkembangan produktifitas intelektual, kreatifitas dan tidak mandiri sehingga kami mengecam tindakan itu,"

Tindakan premanisme itu dibenarkan oleh ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Aljuldin yang pernah kerak baju ditarik oleh Dekan III saat menggelar agenda bina desa di desa Modayama, Pulau Kayoa, Namun hal itu telah dibicarakan dan diselesaikan saat di lokasi kegiatan. 

Sementara,  Alfajrin mahasiswa semester 8 yang sempat menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (himapro)  Manajemen pun,  pernah mengalami tindakan serupa.

Ia mengungkapkan saat masi menjabat sebagai ketua himapro pada 2019 lalu sempat di cekik tanpa sebab ketika inforient oleh wakil dekan III.

Tak cuman itu,  pada (4/4/2021) lalu, Ketua Himapro Ekonomi Pembangunan, Irawan Abae dipaksa melakukan shit-up. Hal ini terjadi karena Irawan tidak mengangkat telpon dari pak dekan. 

Saat itu Irawan bersama beberapa temannya sedang berdiskusi di kantin belakang fakultas ekonomi. Ketika ia sedang ke toilet Hp-nya berdering yang langsung dijawab oleh temannya tanpa mengetahui kalau panggilan itu dilakukan wadek III karena menggunakan nomor baru. 

Irawan sendiri tidak menggubris,  karena tidak mengetahui kalau telpon itu dilakukan wadek III sebab menggunakan nomor baru , sebelum di hubungi oleh Ketua himapro manajemen untuk menghadap wadek III. 

Saat menghadap,  ia mengungkapkan  digertak akan dipukul karena dianggap tidak menghargai wadek III, sekalipun sempat menjelaskan alasannya tidak mengangkat telpon itu,  namun tetap dipaksa untuk melakukan shit up

"saya merasa tidak nyaman, apa lagi banyak yang menyaksikan hal itu," ungkapnya. 

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr.  Abdullah W.  Jabid yang ditemani dua ketua program studi, yakni dari Prodi Manajemen, Dr. Adnan Rajab dan prodi Ekonomi pembangunan, Aswir Hadi saat mengajak mahasiswa hering diruang rapat mengatakan selaku pimpinan, ia akan menyampaikan ke Nonce  hal -hal yang sudah mahasiswa sampaikan.  

"Nanti saya akan panggil pimpinan semua buat rapat dan bicarakan hal ini,  kalian tunggu saja," tuturnya. 

Ia juga menjelaskan bahwa kewibawaan harus dijaga,  namun kalau sudah seperti ini mau bilang apa dengan karakter orang yang memang seperti itu. 

"Kita tidak bisa merubahnya mungkin pelan-pelan, Saya kira pak Nonce sudah baik sekali untuk saat ini,  kalau kita mundur lima atau 10 tahun kebelakang itu karakternya sangat keras  Sehingga ini cambuk buat kita untuk kedepannya bisa lebih kuat," tandas dekan.

Ketua Prodi manajemen, Dr. Adnan Rajab meminta untuk diselesaikan secara bijak, dan sampaikan saja unek-unek mahasiswa karena baginya tidak sedang mencari-cari kesalahan pak wadek dan pak Nonce selaku wadek III mencari kesalahan mahasiswa sehingga permasalahan ini tidak selesai. 

"Intimidasi ini hanya persepsi mahasiswa, saya sendiri sering kasar kepada mahasiswa namun niatnya itu memberikan motivasi," tutur Adnan. 

"Sampaikan saja,  biar kami tau bahwa kalau mahasiswa diperintah-perintah maka akan larinya ke tindakan sewenang-wenang," tandasnya. 

Pak Adnan secara pribadi masi membela pak Nonce karena ia percaya pak Nonce ingin memberikan motivasi.

Kata Adnan, Kalau mahasiswa merasakan atau mengasumsikan bahwa tindakan tadi tidak bagus itu lebih melekat pada kultur di Maluku Utara, mahasiswa merasa kenapa tidak bisa dibilang malah harus disuruh,  namun sekali lagi ini menyangkut personality dan karakteristik orang.

Sarannya yang berangkat dari pengalaman dia,  bahwa dalam pengalamannya menjadi mahasiswa, mereka lebih banyak mau memaklumi guru, mau memaafkan, karena  harus timbang-timbang kebaikan dia dan seterusnya.


Reporter: Darman
Editor: Susi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama